Minggu, 15 Maret 2009

Menanggulangi Masalah HIV/AIDS pada Remaja

Menarik untuk disimak sebuah tulisan yang dimuat oleh salah satu harian terkemuka nasional dalam rangka peringatan Hari AIDS Nasional 1 Desember ini. Tulisan tersebut menyebutkan bahwa kampanye penanggulangan epidemi HIV/AIDS di Indonesia masih belum efektif, oleh karena masih sebatas penyampaian informasi belaka.
Kampanye-kampanye yang dilakukan juga diakui belum mampu mengubah perilaku kelompok-kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS, antara lain para pengguna narkoba suntik dan penikmat seks bebas.
Hal tersebut terbukti dari laporan dari Departemen Kesehatan RI bahwa sampai dengan tahun 2006 ini, tidak ada satu pun provinsi di Indonesia yang bebas dari HIV/AIDS. DKI Jakarta menempati urutan teratas, diikuti oleh Papua, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Sumatera Utara, dan Jawa Tengah. Laju penyebaran virus HIV/AIDS di Indonesia bahkan disebut-sebut merupakan salah satu yang tercepat di dunia.
Berdasarkan kondisi tersebut, tidak heran jika Dr. Piot, Direktur Eksekutif UNAIDS, mengatakan Indonesia berada “di tepi jurang” epidemi AIDS yang cukup serius. Berdasarkan data yang diperoleh dari UNAIDS: Report on The Global AIDS Epidemic, 2006, jumlah pengidap HIV/AIDS usia 15-49 tahun di Indonesia diperkirakan 170.000 orang, dengan perkiraan jumlah pengidap yang meninggal sepanjang tahun 2005 sebanyak 5.500 orang. Data tersebut menunjukkan suatu kenyataan pahit, bahwa salah satu korban dari epidemi HIV/AIDS di Tanah Air tidak lain adalah kaum remaja, harapan masa depan bangsa. Suatu kondisi yang sangat memprihatinkan!
Remaja: Berisiko Tinggi
Remaja masuk dalam kelompok risiko tinggi. Mengapa? Salah satu penyebabnya adalah usia mereka masih berada dalam masa transisi—bukan anak-anak lagi, namun belum dapat disebut orang dewasa—yang ditandai dengan adanya beberapa perubahan dalam diri mereka, antara lain perubahan fisik, emosi, pola pikir, sosial, dan biologis/seksual.
Kondisi demikian membuat kaum remaja belum memiliki kematangan mental oleh karena masih mencari-cari identitas/jati diri-nya, sehingga sangat rentan terhadap berbagai godaan dalam lingkungan pergaulannya. Godaan itu bisa berupa pemakaian narkoba, alkohol, seks bebas, dan sebagainya.
Pemerintah bukannya tidak menyadari akan potensi berkembangnya penyebaran HIV/AIDS di kalangan remaja. Berbagai usaha telah dilakukan, mulai dari pendidikan seks di sekolah-sekolah sampai kepada kampanye-kampanye pencegahan HIV/AIDS.
Namun hal itu dirasa belum efektif. Perubahan perilaku masih minim terjadi. Data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2004, menunjukkan bahwa remaja yang beberapa generasi lalu masih malu-malu, kini sudah melakukan hubungan seks pada usia 13-15 tahun! Selain itu terungkap pula bahwa 21-30 persen remaja Indonesia di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta telah pernah berhubungan seks bebas.

Pembentukan Karakter
Para ahli menyebutkan ada beberapa hal yang membuat kaum remaja mudah jatuh ke dalam perilaku seks bebas, antara lain pengaruh lingkungan pergaulan, pornografi, sulit membedakan antara cinta dan nafsu, naif karena berpikir berhubungan seks satu kali tidak apa-apa, dan lain sebagainya. Terhadap kondisi-kondisi demikian, sulit untuk menemukan suatu cara yang ampuh untuk mengatasinya selain adanya usaha-usaha pembentukan karakter dalam diri remaja.
Pendidikan seks yang berdasarkan pembentukan karakter bukanlah mengajarkan bagaimana melakukan seks yang aman, termasuk penggunaan alat-alat kontrasepsi seperti kondom, melainkan suatu program yang mendidik bagaimana seorang remaja memiliki karakter yang kuat seperti sikap bertanggung jawab, berani mempertahankan prinsip, rasa hormat terhadap diri orang lain, dan kemampuan pengendalian diri untuk tidak berperilaku negatif, dan sebagainya. Karakter-karakter yang demikian membuat seorang remaja mampu untuk mempertahankan prinsip “tidak melakukan hubungan seks bebas” (abstinence).
Menghadapi perkembangan yang mengkhawatirkan ini, dunia pendidikan, pemerintah, dan organisasi kesehatan sibuk menebarkan pesan “pengurangan risiko,” terutama tertuju pada kaum remaja.
Penanggulangan difokuskan pada upaya mengurangi kemungkinan terjadinya kehamilan atau tertular penyakit menular seksual, lazimnya dengan menyebarluaskan penggunaan alat kontrasepsi atau metode/sarana pencegah penyakit, terutama kondom. Ironisnya, masalah perilaku seks bebas itu sendiri kurang mendapat perhatian serius.
“Say No to Free Sex” adalah keputusan terbaik dan paling sehat untuk para remaja. Kenyataannya, pesan serupa secara universal diajarkan dalam menanggulangi perilaku beresiko tinggi lainnya, termasuk merokok, mabuk-mabukan, narkoba dan kekerasan (Misal: “Say No to Drugs”). Pantang melakukan semua tindakan berisiko tinggi– termasuk aktivitas seksual–menjamin masa depan yang cerah dan memberi kesempatan pada anak muda untuk membina persahabatan, meraih impian dan cita-cita, serta menikmati kesehatan yang optimum.
Beberapa kelompok masyarakat tertentu mengabaikan atau menganggap remeh ide agar seseorang menahan diri dari aktivitas seks di luar nikah. Menurut mereka, hal ini tidaklah realistis. Mereka beranggapan bahwa aktivitas seksual di kalangan remaja mau tak mau pasti terjadi, jadi pendekatan yang paling masuk akal adalah menolong mereka meminimalkan konsekuensi dari tindakannya itu.
Lebih jauh, asumsi “mau tak mau pasti terjadi” tidak pernah menjadi semboyan panutan program-program yang dengan gigih berupaya menanggulangi kecanduan rokok, alkohol, dan narkoba di kalangan kaum muda.
Berdasarkan suatu survei yang pernah dilakukan tentang ketepatan dalam menggunakan kondom, hasilnya menunjukkan tingkatan yang rendah, terutama di kalangan remaja. Rupanya asumsi bahwa remaja lebih sanggup menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks bebas “jauh lebih realistis” dibanding asumsi bahwa remaja akan menggunakan kondom dengan benar setiap kali mereka berhubungan seks.
Lebih dari itu, meski kondom secara konsisten digunakan, khasiatnya kurang terjamin, dan dalam banyak kasus, kondom hanya memberikan perlindungan minimal terhadap penyakit menular seksual yang berbahaya.
Banyak pakar kedokteran yang bahkan meragukan efektivitas kondom dalam mencegah HIV/AIDS. Alasannya, pori-pori lateks yang menjadi bahan pembuatan kondom adalah 0,0003 mm, sedangkan ukuran virus HIV/AIDS jauh lebih kecil, 0,000001 mm.
Jika pesan yang mempromosikan pantang seks bebas (abstinence) diharapkan bisa terlaksana dengan efektif, tidaklah cukup bila kita hanya mengkampanyekan slogan “Say No to Free Sex” atau sesekali menggelar acara penyuluhan dan ceramah kesehatan tentang penyakit menular seksual dan HIV/AIDS.
Pesan tersebut mesti dicanangkan secara komprehensif, multidimensi, dan berulang-ulang, lewat berbagai cara, selama beberapa tahun, baik di sekolah, di rumah, dan lingkungan sekitar.
Hasil yang baik tidak bisa diperoleh secara instan. Kombinasi dari peran pendidik, orangtua, pemerintah, maupun segala lapisan masyarakat diharapkan mampu menciptakan remaja yang berkarakter tangguh. n

Fokus Pada Keluarga adalah sebuah organisasi nirlaba yang bergerak di bidang psikologi keluarga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

thank yg dah komentar